ilmaffectional

My affection is affectionately affectionate an affectional affection...

Wednesday, November 14, 2007

DuaPuluhTujuh.

Hmm, cukup lama juga ya saya menganaktirikan blog ini. Kesibukan, kemalasan, hilangnya kepercayadirian dalam menulis dan semangat berbagi cerita membuat saya sengaja menarik diri dari blog ini dalam waktu yang cukup panjang. Postingan saya yang terakhir ternyata sudah berumur 4,5 bulan sekarang-- waktu yang tidak sebentar tapi juga sangat singkat untuk merangkum skenario Tuhan dalam perjalanan waktu yang saya lalui itu.

Satu hal yang menjadi garis bawah tebal berwarna merah yang menjadi pelajaran penting untuk saya selama 4,5 bulan itu adalah, "Tuhan adalah Sutradara Terbaik" dan saya adalah "aktris pemeran utama yang masih harus banyak belajar untuk menjadi bintang di mata-Nya". Tugas yang amat sangat berat untuk saya, karena skenario yang Dia berikan ternyata begitu penuh dengan permainan emosi yang membuat rasio seringkali menolak untuk bekerja, dan karakter yang saya perankan cukup sulit saya mainkan. Belum lagi, skenario yang Dia ciptakan terjadi begitu spontan dan tak terduga, sehingga membuat saya terkejut dan sering panik dalam mengimprovisasi peran. Improvisasi yang saya lakukan seringkali tidak sesuai dengan apa yang Sang Sutradara inginkan; dan sebaliknya, apa yang Sang Sutradara mau terkadang terlalu berat untuk saya mainkan..

Sebagai seorang aktris yang masih merangkak, tentunya saya memiliki banyak idola yang bisa saya jadikan contoh dan panutan dalam berseni hidup. Diantara ratusan idola tersebut, ada 2 orang bintang yang sangat saya agungkan. Drama hidup yang mereka mainkan sangat sempurna serta jujur, dan mereka adalah sumber inspirasi saya dalam memainkan peran saya sebagai seorang Ilma.

Mereka adalah Yahdi Zaim dan Anita Fithriani, ayah dan ibu saya.

Ibu saya diberi kepercayaan oleh Sang Sutradara untuk menjadi seorang ibu untuk 3 orang anak, sekaligus istri untuk seorang kepala keluarga. Selama 27 tahun Ibu berperan hebat dan begitu luar biasa menjadi seorang pendamping hidup bagi ayah saya. Dua puluh tujuh tahun. Waktu yang tidak singkat, bukan? Romantisme hidup yang beliau mainkan tidak dapat terukur oleh apapun. Ibu saya bisa menjadi seorang Juliet sekaligus Erin Brockovich, tapi juga bisa seperti Bridget Jones sekaligus ibu kita Kartini, unik kan? Karakter unik yang beliau perankan membuat Ayah harus pintar-pintar mengimprovisasi perannya sendiri selama 27 tahun menjadi lawan mainnya.
Ibu adalah sosok wanita yang sangat sempurna di mata saya, dan saya yakin juga sangat sempurna di mata Ayah. Tanpa beliau, saya tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya menjadi seorang Ilma. Banyak sekali pelajaran hidup yang saya peroleh dari beliau- bagaimana membintangi seri romantis yang bisa tetap survive dalam berbagai episode yang begitu panjang dan dalam durasi yang tidak sebentar. Ayah saya sering sekali mengungkapkan kepada saya betapa besarnya kekaguman beliau terhadap Ibu, betapa beliau sangat bangga memiliki istri seperti Ibu, dan betapa beliau sangat mencintai Ibu saya melebihi apapun. 27 tahun adalah angka yang lebih dari kata dewasa, dan Ibu adalah bintang yang tidak akan pernah redup..

Ayah saya adalah lawan main Ibu yang sangat mengimbangi kekurangan dan kelebihan Ibu. Memang Sang Sutradara benar-benar sutradara terbaik. Dia bisa dengan begitu sempurna memasangkan aktor dan aktris yang bisa saling mengisi dan melengkapi. Skenario yang Dia ciptakan juga begitu indah; 27 tahun penuh episode romantis yang dilengkapi dengan bumbu-bumbu hidup yang membuat kebersamaan mereka sungguh menarik. Ayah saya seorang yang cukup idealis dan sangat berpegang teguh pada prinsipnya. Ibu sering mengeluh tentang kekakuan ayah saya; tapi Ibu juga sangat bisa mencairkan kekakuan Ayah dengan improvisasi peran yang sangat hebat. 27 tahun hidup sebagai kepala keluarga dan imam bagi kami adalah pekerjaan aktor yang tak ternilai. Adalah suatu tugas yang sangat berat, menjadi pemimpin yang bisa membimbing istri dan anak-anak menjadi aktris dan aktor yang kelak mampu mengambil hati Sang Sutradara dan meraih piala penghargaan di akhir drama hidupnya..


Ibu sayang, terimakasih atas 25 tahun yang penuh cinta untuk Ilma; terimakasih untuk kasih sayang, kesabaran dan pengorbanan Ibu yang telah begitu kuat merangkul pundak Ayah selama 27 tahun ini.. Terimakasih untuk tidak berhenti menjadi bintang dalam keluarga kita ini; terimakasih untuk ketulusan berbagi cahaya hati untuk kami semua.. Ibu harus tahu betapa seringnya Ayah meminjam telinga Ilma untuk bilang, "Ayah bangga menjadi suami Ibu." There's a great woman behind a great man, Bu.. Ayah tidak mungkin bisa sehebat ini tanpa Ibu disampingnya..

Ayah sayang, terimakasih atas 25 tahun penuh bimbingan atas nilai-nilai hidup untuk Ilma; terimakasih atas kokohnya punggung keluarga selama 27 tahun ini.. Terimakasih atas perjuangan untuk tetap berdiri tegak agar keluarga ini bisa selalu kuat dalam kebersamaan, terimakasih untuk semua pembelajaran hidup yang selalu Ayah tanamkan kepada kami. Ayah juga harus sadar bahwa dibalik setiap cerita, Ibu selalu bangga setiap kali mengucapkan nama emas Ayah.. Strong man has a strong soul, Yah.. Tetaplah kuat karena selalu akan ada Ibu di samping Ayah...

Kepada Ayah dan Ibu, cahaya hidup Ilma, para motivator Ilma untuk tetap kuat menjadi seorang Ilma;

15 November 2007. Semoga episode kebersamaan yang telah Ayah Ibu rangkum sejak 27 tahun yang lalu dan penuh dengan cerita-cerita indah ini tidak akan pernah berakhir; dan semoga Sang Sutradara Terbaik senantiasa memberikan berkah-Nya kepada kita semua, dan semoga kita menjadi bintang dengan penghargaan tertinggi di hadapan-Nya. Amin.. Selamat Ulang Tahun Pernikahan!!!

Maaf tahun ini Ilma cuman bisa ngasih doa, gak bisa ngasih apa-apa kayak ulang tahun sebelumnya.. Maaf juga minggu ini Ilma gak bisa pulang ke Bandung.. Insya Allah ntar pas Ilma pulang kita makan sushi yuukk!!!!

5 Comments:

Blogger Iman Brotoseno said...

mereka pahlawan sesungguhnya ..bukan diponegoro, imam bonjol, patimura..
nulis lagi yaaa

8:59 PM, November 14, 2007  
Anonymous Anonymous said...

waah, mengharukannn..

selamat ya buat ayah dan ibunya ilma :)

6:19 PM, November 15, 2007  
Blogger Nadine-Zaki said...

De Il... you must believe me: gw nangis pas baca postingan ini. Pendapat De Il soal parents sama dengan pandangan gw soal itu. Dan terlebih, gw sekarang dah being a mom. Kebetulan pula, saat mbaca posting ini anak gw, Fahd, lagi demam. Jadi sepanjang kerja ini kepikiran terus sama dia. So, I can't bear this feeling. Nangiiiiss.. bener-bener nangis!! Mudah-mudahan ngga ada temen kantor yang liat ya? Kan malu :) Salam untuk ami Zaim dan tante Nita ya, De... I do love them like I love my parents.

12:33 PM, November 21, 2007  
Anonymous Anonymous said...

he he ternyata ilma anak yg bae yach,terus nulis dong orang ointar itu rang yg banyak baca ama nulis,ma dosa lu itu belum ada apa2 ama dosa gw ma,gw udah prrnah ngelakuin hal yg penuh dosa ,tetap semangat ya ma,hidup ini bagian dari lauh madhfus,so tetap semangat ya,ma lu percaya seseorang bisa membaca takdirnya,ya moga bener tuh mimpi,i am loking for my destyny,

8:40 PM, December 08, 2007  
Anonymous nuniek nur sahaya said...

wah.... postingan yang baguss.. makasii yaaa

11:22 AM, May 18, 2010  

Post a Comment